Text
Haga Ganteng & Printer
"Haga, numpang ngeprint, ya."
"Oke, Nam."
"Ah, makasih Haga. Tuh, kan, pengen jadiin suami. Eh, maaf, mulut suka lancar ngomongnya kalo lihat orang ganteng. hehehehe."
"Oh iya, Ga. Ini gue bayar aja, ya. Tapi, gue bayarnya serebu dulu gpp, kan? Sisanya gue utang. hahaha."
"Gak usah. Gua bukan mas-mas fotokopian."
"Tapi, mas-mas calon pendamping hidup aku, bukan? Eh, aduh. Maaf ya, Ga. Tadi makan seblaknya level 100, jadi suka loss control nih mulut kayak jalan tol."
Gimana rasanya kalo cowok ganteng, dingin, dan irit ngomong harus berhadapan sama cewek seperti Anami. Iya, alhasil seperti dialog di atas.
Semua bermula dari tugas yang diberikan dosen dan Anami harus mengumpulkan dalam waktu cepat. Karena kondisi keuangannya sedang sulit dan tidak mendapatkan bantuan dari sahabat-sahabatnya, Dirga menyarankan Anami untuk menumpang ngeprint di rumah Haga. Alhasil, benih-benih cinta mulai tumbuh. Dari printer turun ke hati.
Sayangnya, jatuh cinta terang-terangan Anami tidak terbalaskan dengan baik dari Haga. Justru, sahabatnya sendiri, Zidane, menyukainya diam-diam.
Hingga suatu kejadian menimpa Anami dan Haga menyesal telah menyia-nyiakan seorang gadis yang memang tulus mencintainya.
| 3699 | My Library | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain